Virtual Side of Gusti Prayudi

Wanna see my virtual family ... click this picture

 

Rhapsody - Power of Dragon Flame

Rhapsoy - Power of Dragon Flame

Sewaktu saya pertama kali mendengar musik dari Rhapsody, yaitu pada album ketiganya, Dawn of Victory, saya sempat terkaget-kaget. Bagaimana tidak, musik mereka seperti sebuah mimpi menjadi kenyataan bagi penulis. Kocokan Heavy Metal yang sedikit mirip dengan Helloween pada masa jayanya (1985-1989), dicampurkan dengan unsur Neo-classic yang kental, orkestrasi yang megah ala soundtrack film, dan choral yang bernuansa 'dark', benar-benar suatu 'campuran' yang mencengangkan. Hal-hal tersebut belum lagi ditambahkan cerita berkesinambungan yang diusung disetiap albumnya.

Power of Dragonflame adalah album kelima mereka. Sepertinya, album ini adalah album penutupan dari cerita 'Legendary Tales' yang dimulai dari album pertama mereka dengan judul yang sama, 'Legendary Tales', yang dirilis pada tahun 1997. Kata 'sepertinya' disebabkan penulis tidak mengetahui dengan pasti apakah cerita 'Legendary Tales' memang sudah benar-benar diakhiri.

Pada permulaan album (baca: Side A lagu pertama), pendengar langsung di 'gebrak' dengan 'In Tenebris', sebuah overture choral yang megah sekaligus 'dark'. Persis seperti pembukaan sebuah film. Lalu, tanpa menurunkan tempo, pendengar di 'gebrak' lagi dengan 'Knightrider of Doom'. Kemudian, lagu demi lagu pun bergulir, yang semakin lama makin mengekskalasi 'feel' dan 'mood' pendengar. Album ini secara keseluruhan memang seperti klimaks dari sebuah cerita, dimana semuanya berjalan sangat cepat dan menegangkan, dan mencapai klimaksnya pada babak ketiga dari lagu 'Gargoyles, Angels of Darkness,' yaitu '...and the Legend ends...'.

Mungkin, secara konsep musik Rhapsody tidaklah baru. Tetapi yang sangat berbeda adalah cara penyajiannya. Full orchestra sangat jarang digabungkan dengan musik rock. Walaupun ada, seperti Yngwie Malmsteen dan lagu dari grup-grup lainnya yang diaransemen oleh Michael Kamen (Queensryche, Rush), persentasenya hanya sedikit (pengecualian untuk Yngwie). Rhapsody menghadirkan seluruh unsur musik klasik (full orchestra, choral) kedalam semua lagunya, disetiap album. Dapat dikatakan bahwa musik Rhapsody adalah musik klasik dalam format rock.

Dua dedengkot dari Rhapsody, yaitu Luca Turilli (gitar) dan Alex Staropoli (keyboard), adalah motor dari grup metal asal Italia ini. Keduanyalah yang membuat konsep cerita dan aransemen musik dari cerita 'Legendary Tales'. Harus diakui, membuat konsep cerita seperti 'Legendary Tales' tidaklah mudah. Banyak memang pemusik lain yang membuat album berdasarkan atas suatu cerita, seperti Dream Theater atau King Diamond, tetapi biasanya cerita tersebut hanya berlangsung per album. Sebaliknya, cerita yang diusung Rhapsody berlangsung sampai 5 album! Saingannya, mungkin, hanyalah proyek Avantasia dari Tobias Emmet dan para (eks?) anggota Helloween (2 album). Ini merupakan sebuah prestasi tersendiri.

Nah, walaupun Rhapsody adalah grup metal idaman penulis, ada juga sisi yang kurang disukai penulis. Penulis merasa bahwa permainan gitar Luca Turilli masih belum matang sepenuhnya. Jika dibandingkan dengan Alex Staropoli, permainan Alex jauh lebih matang. Hal ini terlihat jelas dari permainan melodinya. Memang, penulis mengakui, keduanya sama-sama jago memainkan instrumennya, tetapi kematangan dilihat dari pemilihan nada dan nuansa dari melodi setiap pemain. Hal ini subyektif penulis lho.

Buat mereka yang ingin bernostalgia, ataupun menghargai musik dari jaman keemasan musik (baca: era '80an), cobalah mendengar musik dari Rhapsody. Setidaknya bisa menjadi alternatif untuk beristirahat dari mendengarkan 'Modern Rock'. (gst)

 

Prolog    

    Hanya ilmu alam modern yang telah mencapai suatu perkembangan menyeluruh, sistematik, ilmiah, jika dibandingkan dengan intuisi-intuisi filosofikal-alam yang jenius dari zaman kuno dan penemuan-penemuan bangsa Arab yang luar-biasa penting namun sporadik, yang sebagian besarnya lenyap tanpa hasil-hasil--ilmu alam modern ini berasal dari, seperti semua sejarah zaman akhir-akhir ini, dari zaman perkasa yang oleh orang-orang Jerman disebut Reformasi sesudah malapetaka nasional yang menimpa Jerman pada waktu itu, dan yang disebut Renaisans oleh orang Perancis dan Cinquecento (secara harfiah berarti yang limaratus, yaitu abad ke enam-belas) oleh orang-orang Italia, walaupun tidak satupun dari nama-nama itu dapat secara sepenuhnya melukiskannya. Itulah zaman yang lahir pada paroh pertama abad ke lima-belas. Golongan kerajaan, dengan dukungan kaum warga kota-kota, mematahkan kekuasaan bangsawan feodal dan mendirikan monarki-monarki besar, yang pada pokoknya berdasarkan kebangsaan, yang di dalamnya bangsa-bangsa Eropa modern dan masyarakat burjuis modern berkembang; dan sementara kaum warga dan kaum ningrat saling bergulat satu sama lain, perang tani di Jerman secara nubuat meramalkan perjuangan-perjuangan klas masa-depan, yang tidak hanya mengangkat kaum tani yang memberontak itu ke atas pentas --yang tidak merupakan hal baru lagi--melainkan, di belakang mereka, permulaan-permulaan dari proletariat modern, dengan bendera merah di tangan dan tuntutan pemilikan bersama atas bibir-bir mereka. Di dalam manuskrip-manuskrip yang diselamatkan dari keruntuhan Bisantium, pada patung-patung kuno yang digali dari reruntuhan Roma, suatu dunia baru telah terungkap bagi Barat yang terpukau, yaitu dunia Yunani kuno; roh-roh Abad Pertengahan lenyap dihadapan bentuk-bentuknya yang gemilang; Italia bangkit pada suatu pemegaran seni yang tak-terbayangkan, yang tampak seperti suatu pencerminan kekunoan klasik yang tidak pernah dicapai lagi di kemudian hari.

    Di Italia, Perancis dan Jerman lahir suatu kesusasteraan baru, kesusasteraan modern pertama, yang tidak lama kemudian disusul olleh zaman-zaman klasik kesusasteraan Inggris dan Spanyol. Batas orbis terrarum (=bulatan negeri-negeri, sebuah istilah yang dipakai orang Romawi kuno untuk bumi) telah ditembus; baru sekarang dunia benar-benar diketemukan dan landasan diletakkan bagi perdagangan dunia dan peralihan dari kerajinan tangan pada manufaktur, yang pada gilirannya merupakan titik-awal bagi industri modern berskala besar. Kediktatoran spiritual Gereja telah pecah berantakan; ia secara langsung dibuang oleh mayoritas bangsa-bangsa germanik, yang memeluk Protestantisme, sedangkan di kalangan orang-orang Latin, suatu semangat pikiran bebas yang ceria, yang diambil-alih dari orang-orang Arab dan dipupuk oleh filosofi Junani yang baru ditemukan kembali, semakin berakar dan mempersiapkan jalan bagi materialisme abad ke delapan-belas.  

Sebuah prolog yang saya sajikan berdasarkan "Dialectics of Nature" dari pengarang terkenal Friedrich Engels. Kekaguman saya terhadap kebudayaan pada sejarah bangsa2 eropa membuat saya tergelitik untuk bisa juga menuangkan sejarah hidup dan kehidupan saya dalam tuangan sebuah tulisan bermakna. Beberapa hari terkahir ini, pikiran yang kosong dan hampa rupanya mengilhami saya untuk membuat suatu tulisan yang mungkin bisa kembali mengingat masa kecil saya dikota kecil di daerah Kalimantan, dan  sampai sekarang dan terus hidup dan menjalani kehidupan ini dibawah kuasa-Nya. Kehidupan yang selayaknya kita nikmati terus sampai nantinya di akhir zaman, bukan malah menjauhkan diri kita dari Sang Khalik, bahkan merupakan suatu pemicu diri kita untuk selalu tunduk dan merendah diri dihadapan sesama ciptaan-Nya maupun dari-Nya sendiri.

 
-------------------------------------------------------------
 
Kecintaan
 
 
"Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta .... kepadaku, beri sedikit waktu biar cinta datang karena telah terbiasa ..... "
 
Dhani Ahmad Prasetyo yang dikenal akrab dengan Dhani Manaf atau Ahmad Dhani dilahirkan di Jakarta 26 Mei 1972, anak pertama dari tiga bersaudara hasil pernikhan antara Eddy Abdul Manaf dengan Joyce Theresia Pamela. Dadang S. Manaf seorang gitaris dan komposer legendaris musik Indonesia adalah kakaknya dari lain ibu, karena itu Dhani sangat mengenal musik semenjak masa kecilnya. Wataknya yang keras dan penuh percaya diri, dan agak temperamental adalah sifat yang menonjol pada cowok jebolan SMUN 2 Surabaya ini. Aransemen musik dan harmonisasi vokal yang menjadi ciri khas Dewa 19 adalah hasil kreasinya yang sangat diilhami oleh kelompok musik asal Inggris, Queen. Sejak masih SD, ia sudah menggilai band ini hingga koleksi albumnya di rumah mencapai lebih dari 50 keping.

Ambisinya untuk meraih puncak tertinggi dalam bermusik dengan Dewa 19 terlihat jelas semenjak mereka mendirikan Dewa pada tahun 1986. Obsesi ini membuat dirinya sering tidak takut untuk berbeda pendapat dengan orang lain, yang mengakibatkan banyak yang menganggap dia arogan, tapi tidak sedikit juga yang memuji kejeniusannya dalam bermain musik.

Pernikahannya dengan Maia Estianty di tahun 1996 dan setelah hadirnya tiga orang anak mereka, Ahmad Al Ghazali, Ahmad Jalaluddin Rumi dan Ahmad Abdul Qodir Jaelani, mungkin merupakan puncak kebahagiaan Dhani dalam hidupnya, namun ini tidak menyurutkan ambisi-ambisinya seperti mendirikan studio sendiri, merintis solo karir, dan menjadi produser yang berhasil menerbitkan beberapa orang penyanyi yang sekarang sudah mempunyai nama besar.

 
Nonton Film
 
Spider-Man 2
Spider-Man 2 
Krisis Identitas Sang Superhero
 
Kehilangan cinta, sahabat, dan kehidupan pribadi, itulah resiko seorang Superhero. Di seri kedua ini, Peter Parker telah membuat keputusan penting. Akankah ia terus, atau berhenti menjadi Spiderman.

Walaupun dipenuhi oleh adegan yang menegangkan, tema cinta tetap menjadi nomor satu dari film ini. Sang Spiderman alias Peter Parker (Tobey Maguire) tengah gundah gulana akan cintanya pada sahabatnya, Mary Jane (Kirsten Dunst).

Batinnya tertekan, Peter harus menghadapi kenyataan pahit kalau ia tak mungkin memiliki Mary Jane (MJ). Konsekuensi sebagai seorang Superhero membuatnya tak banyak waktu untuk porsi pribadi.

Konflik batin semacam itulah yang banyak mengisi film Spiderman 2 dari awal hingga hampir di penghujung film. Konflik semakin memanas ketika Mary Jane akan menikah dengan pria lain.

Tak berbeda dengan pria pada umumnya, konflik batin itu akhirnya mempengaruhi pekerjaan Peter, yang tentu saja sebagai seorang Spiderman.

Kekuatannya mulai melemah. Senjatanya mulai tak berfungsi ketika dirinya semakin gundah. Akhirnya iapun bertanya, apakah ia akan terus menjadi superhero dengan resiko kehilangan cinta seumur hidupnya?

Atau menggantung kostum laba-labanya dan merebut kembali hati sang kekasih? Keputusan harus dibuat segera, apalagi Mary Jane akan segera menikah.

Di luar masalah percintaan, konflik lain tak begitu mendominasi. Pertarungan Spidey dengan Dr.Oct manusia aneh berkaki enam berlangsung sedikit di tengah dan akhir film. Bahkan di pertarungan terakhir, dorongan utama Spidey melawan Dr. Oct adalah untuk menyelamatkan sang kekasih MJ.

Tak hanya Spidey yang tengah dipengaruhi dewa Cupid. Aksi sang musuh, ilmuwan gila Dr. Oct, juga dikuatkan oleh cintanya pada sang istri yang tewas dalam percobaan yang dibuatnya.

Di luar masalah cinta, masih ada konflik balas dendam yang tersisa dari seri pertama. Harry Osborn putra dari musuh Spiderman Norman Osborn alias Green Goblin masih menyimpan dendam membara pada si manusia laba-laba. Harry menganggap Spidey bertanggung jawab atas kematian ayahnya.

Dendamnya itupun harus dibalaskan. Bekerjasama dengan Dr.Oct, Harry pun memburu Spidey.

Secara keseluruhan, film Spiderman 2 ini lebih menyenangkan dibanding seri yang pertama. Tema cinta yang membungkus seri ini, membuat sang karakter lebih hidup.

Tak melulu hanya berkutat melawan penjahat dan musuh lainnya. Konflik tentang pilihan hidup cukup mendominasi sepanjang film. Akankah Spiderman menggantung kostum laba-labanya demi MJ? Akankah Mary Jane menikah dengan pria lain walau masih mencintai Peter Parker?

Dan akankah Harry relah membunuh sahabatnya sendiri, Peter Parker alias Spiderman demi membalas dendam ayahnya?

Well, life is just a matter of choice. Seperti ujar Mary Jane di penghujung film, “You got to do what you got to do.” (Dikutip dari Detik.com)
 
 

Terlalu romantis untuk dilupakan, dan terus terngiang-ngiang di kupingku,  

Bersamamu kulewati

Lebih dari seribu malam

Bersamamu yang kumau

Namun kenyataannya tak sejalan   

Tuhan bila masih ku diberi kesempatan

Izinkan aku untuk mencintanya

Namun bila waktu ku telah habis dengannya

Biar cinta hidup sekali ini saja  

Tak sanggup bila harus jujur

Hidup tanpa hembusan nafasnya  

Tuhan bila waktu dapat kuputar kembali

Sekali lagi untuk untuk mencintanya

Namun bila waktuku telah habis dengannya

Biarkan cinta ini hidup untuk sekali ini saja   

 

19 Juli 2004, mungkin hari yang tak akan terlupakan seumur hidupku, mau tau apa itu ?  Hari itu adalah hari dimana "BLOGKU HANCUR, DAN SALAH POSTING' ................ wuuuaaaaaaaaaaaaaaaa ....................... wwwuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa makanya sekarang ganti layout dan template baru.  

 

"Cinta muncul ketika imajinasi mulai mengalahkan intelegensi"

(HL. Mencken 1880-1956)